https://bontang.times.co.id/
Wisata

Menyusuri Jejak Manusia Purba di Cagar Budaya Goa Malawang Tasikmalaya

Jumat, 06 Februari 2026 - 21:01
Menyusuri Jejak Manusia Purba di Cagar Budaya Goa Malawang Tasikmalaya Mulut Goa Malawang di Kampung Wangunwati, Sukawangun, Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. foto diambil beberapa Waktu yang lalu. (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

TIMES BONTANG, TASIKMALAYA – Di selatan Kabupaten Tasikmalaya, tepatnya di Kampung Wangunwati, Desa Sukawangun, Kecamatan Karangnunggal, terbentang sebuah kawasan yang menyimpan jejak peradaban manusia purba sekaligus keindahan alam yang memukau. Cagar Budaya Goa Malawang namanya.

Kawasan tersebut merupakan sebuah kompleks goa alami seluas kurang lebih 5 hektare yang terdiri dari belasan goa purba, ceruk batu, serta aliran sungai indah menyerupai canyon alami.

Di tengah geliat pariwisata modern yang banyak menonjolkan wahana buatan, Goa Malawang justru hadir sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman autentik - menyusuri sejarah ribuan tahun silam, menjelajahi goa alami, menikmati kesegaran alam pedesaan, hingga berinteraksi langsung dengan aktivitas masyarakat lokal.

Belasan Goa Menanti Dieksplorasi

Nama Goa Malawang sendiri diambil dari lokasi kawasan yang berada di Blok Malawang, wilayah yang sejak lama dikenal warga sebagai kawasan goa alami.

Tak hanya satu atau dua lubang goa, di kawasan ini terdapat sedikitnya 13 goa dan ceruk, di antaranya Goa Karaton, Goa Kursi, Goa Lalay, Lawang Gintung, Goa Gajah, Goa Lungkawing, Goa Dapur, Goa Muncang, Goa Oray, Batu Masigit, serta beberapa ceruk alami lainnya yang membentuk bentang alam khas kawasan batu kapur.

Masing-masing goa memiliki karakteristik tersendiri, baik dari segi bentuk, ukuran, maupun cerita yang berkembang di masyarakat setempat.

Dari seluruh kawasan Goa Malawang, satu spot yang paling memikat perhatian pengunjung adalah Gorin (Goronggongan Indah). Lokasi ini berupa aliran sungai alami yang diapit tebing batu tinggi menjulang, membentuk panorama menyerupai canyon kecil.

Air sungai yang jernih mengalir tenang di antara bebatuan besar, sementara tebing-tebing kapur yang terukir alami oleh waktu menciptakan suasana dramatis sekaligus menenangkan. Di musim kemarau, pengunjung dapat menyusuri aliran sungai dengan aman, bermain air, hingga berfoto dengan latar tebing yang eksotis.

Keindahan Gorin menjadi daya tarik utama wisata alam Goa Malawang, sekaligus memperkaya pengalaman pengunjung yang tidak hanya menjelajah goa, tetapi juga menikmati lanskap sungai yang jarang ditemukan di wilayah Tasikmalaya.

Timbunan Nilai Historis

Namun keindahan alam hanyalah satu sisi dari pesona Goa Malawang. Nilai terpenting kawasan ini justru terletak pada aspek historisnya yang sangat tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian dan temuan arkeologis, Goa Malawang diyakini pernah menjadi tempat tinggal manusia purba pada masa prasejarah. Di beberapa titik, khususnya di Goa Karaton dan Goa Dapur, ditemukan berbagai benda peninggalan yang diperkirakan berusia sekitar 3.000 hingga 1.000 tahun sebelum Masehi.

Benda-benda prasejarah tersebut meliputi Pecahan gerabah kuno yang diduga digunakan sebagai wadah makanan dan minuman, Tombak sederhana sebagai alat berburu, Fosil kerang yang kemungkinan besar merupakan sisa makanan manusia purba.

Keberadaan fosil kerang di dalam goa menunjukkan bahwa manusia purba saat itu memanfaatkan sumber daya alam sekitar sebagai bahan pangan utama. Hal ini memperkuat dugaan bahwa Goa Malawang dulunya merupakan pusat kehidupan manusia prasejarah, bukan sekadar tempat berlindung sementara.

Nilai sejarah inilah yang kemudian membuat kawasan Goa Malawang ditetapkan sebagai cagar budaya, sehingga pelestariannya menjadi tanggung jawab bersama, baik masyarakat maupun pemerintah.

Rute Menuju Eksotika

Goa-Malawang-Tasikmalaya-2.jpgSejumlah wisatawan saat berjalan menuju Goa Malawang di Kampung Wangunwati, Sukawangun, Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia) 

Bagi wisatawan yang ingin berkunjung, jarak dari pusat Kota Tasikmalaya menuju Goa Malawang sekitar 35 hingga 40 kilometer, dengan waktu tempuh kurang lebih 1,5 hingga 2 jam perjalanan menggunakan kendaraan pribadi.

Rute yang biasa ditempuh dari Kota Tasikmalaya-Kawalu-Jalan Raya Karangnunggal -Desa Sukawangun-Kampung Wangunwati-Blok Malawang.

Secara umum, kondisi jalan cukup bervariasi dari Kota Tasikmalaya hingga Kecamatan Karangnunggal, jalan beraspal dalam kondisi relatif baik dan dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Memasuki wilayah Desa Sukawangun, jalan desa masih beraspal namun lebih sempit, dengan beberapa titik tanjakan dan lubang ringan khas kawasan perbukitan.

Setelah sampai di area pemukiman, pengunjung harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melalui jalur trekking alami sejauh beberapa ratus meter menuju kawasan goa. 

Jalurnya berupa tanah, bebatuan, dan sedikit menurun, cukup menantang namun masih aman jika menggunakan alas kaki yang sesuai.

Meski aksesnya belum sepenuhnya ideal, perjalanan menuju Goa Malawang justru menghadirkan panorama pedesaan yang asri, hamparan sawah, kebun warga, serta udara sejuk yang menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Kisah Penemuan Lokasi

Pendamping Desa Wisata Sukawangun, Ika Mustikawati, menceritakan bahwa Goa Malawang sejatinya bukan destinasi baru. Kawasan ini telah dibuka sebagai objek wisata sejak tahun 1990-an oleh para pemuda-pemudi Kampung Wangunwati.

“Awal mula dibuka untuk wisata sekitar tahun 1990-an. Pengelolanya waktu itu pemuda-pemudi kampung,” ujar Ika kepada TIMES Indonesia. Jumat (6/2/2026).

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, pembukaan kawasan wisata ini berawal dari kisah seorang pemuda yang sakit. Ia disebut-sebut rutin datang ke kawasan goa dengan cara ngesot hingga akhirnya sembuh.

“Katanya ada cerita di balik pembukaan Goa Malawang. Ada pemuda yang sakit lalu setiap hari datang ke area goa sampai sembuh. Setelah itu mungkin dia cerita ke pemuda lain, lalu mereka berinisiatif membuka lokasi wisata. Tapi detailnya saya kurang paham,” ungkap Ika.

Saat itu, Goa Malawang sempat menjadi primadona wisata lokal. Dengan harga tiket masuk hanya Rp500 per orang, jumlah pengunjung bisa mencapai lebih dari 1.000 orang per hari.

“Kalau dihitung dari pendapatan tiket, bisa dapat lebih dari Rp500 ribu per hari. Itu besar sekali untuk ukuran saat itu,” tambahnya.

Namun seiring berjalannya waktu, berbagai kendala muncul, terutama dalam hal pengelolaan yang dinilai kurang transparan. Akhirnya, para pemuda-pemudi setempat menghentikan pengelolaan, dan Goa Malawang kembali terbengkalai selama bertahun-tahun.

Upaya Restorasi Kawasan

Goa-Malawang-Tasikmalaya-3.jpgSejumlah warga kampung saat mementaskan kesenian tradisional Sisingaan di Kampung Wangunwati, Sukawangun, Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia) 

Upaya menghidupkan kembali Goa Malawang mulai dilakukan sekitar tahun 2020–2021 oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Meski sempat kembali vakum, semangat warga tak padam.

Pada tahun 2023, warga sekitar yang terdiri dari dua RT sepakat untuk mengelola kawasan wisata ini secara bersama-sama. Mereka kembali membentuk Pokdarwis yang seluruh anggotanya berasal dari lingkungan setempat.

“Kami sepakat mengelola bersama, supaya transparan dan manfaatnya dirasakan banyak orang,” jelas Ika.

Konsep pengelolaan berbasis komunitas ini menjadi kekuatan utama kebangkitan Goa Malawang saat ini.  Berbeda dengan masa lalu yang hanya menawarkan kunjungan ke goa, kini Goa Malawang dikemas dalam bentuk paket wisata terpadu.

Pengunjung tidak hanya diajak menyusuri goa dan menikmati sungai canyon, tetapi juga merasakan langsung kehidupan dan budaya masyarakat Desa Sukawangun.

Beberapa aktivitas yang ditawarkan antara lain Pertunjukan seni tradisional Reog Helar, Edukasi pembuatan gula aren secara tradisional, Aktivitas mencari belut di sawah, Permainan tradisional seperti boy-boyan, gatrik, ngadu kaleci, hingga baren

Konsep ini dirancang untuk memberikan pengalaman wisata yang menyenangkan sekaligus mendidik, khususnya bagi pelajar dan keluarga.

Meski jumlah pengunjung harian masih belum terlalu ramai, dampak ekonomi mulai terasa saat ada rombongan wisata dalam jumlah besar. “Kalau ada paket wisata, minimal sekitar 50 orang warga terlibat langsung,” kata Ika.

Warga yang terlibat berasal dari Pengelola Pokdarwis, Kelompok seni Reog Helar, Pelaku UMKM dan pedagang lokal

Berbagai produk UMKM pun ditawarkan kepada wisatawan, seperti Kopi rempah khas desa, makanan ringan seperti citruk, sale, keripik, hingga berbagai kerajinan tangan dari bambu dan kayu. Ada pula produk unik seperti set alat minum bambu, sarung dan gagang golok ukir, serta patung-patung hias.

Partisipasi aktif warga inilah yang membuat pengelolaan Goa Malawang terasa hidup dan berkelanjutan. Pengelola tidak menargetkan pembangunan besar-besaran. Fokus utama mereka adalah menjaga kelestarian cagar budaya dan alam.

Menanti Dukungan untuk Penguatan Branding

Rencana pengembangan ke depan meliputi Penataan dan perluasan area parkir, Perbaikan jalur trekking agar lebih aman, Penambahan fasilitas dasar seperti papan informasi sejarah. Semua dilakukan dengan tetap mempertahankan keaslian alam dan tidak merusak situs bersejarah.

Dalam hal promosi, Goa Malawang masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia. Media sosial dikelola secara sederhana oleh warga. Meski demikian, destinasi ini sudah mulai masuk ke platform digital seperti Atourin dan KawanLokal, yang membantu memperluas jangkauan promosi.

Ke depan, pengelola berharap ada dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, untuk memperkuat branding Goa Malawang sebagai destinasi wisata sejarah dan alam unggulan Tasikmalaya Selatan.

Dengan luas kawasan mencapai 5 hektare, belasan goa bersejarah, sungai canyon alami, serta keterlibatan aktif masyarakat, Goa Malawang memiliki potensi besar menjadi ikon wisata berbasis cagar budaya di Jawa Barat.

Konsep wisata edukatif yang menggabungkan sejarah, alam, budaya, dan ekonomi lokal sejalan dengan tren pariwisata berkelanjutan yang kini semakin diminati.

Jika dikelola secara konsisten dan didukung infrastruktur serta promosi yang memadai, Goa Malawang bukan tidak mungkin akan kembali berjaya seperti era 1990-an, bahkan lebih berkembang dengan konsep modern berbasis pelestarian.

Cagar Budaya Goa Malawang merupakan warisan berharga yang menyimpan kisah kehidupan manusia purba ribuan tahun lalu, sekaligus menghadirkan pesona alam yang luar biasa indah.

Dari kompleks goa bersejarah, sungai Gorin yang menyerupai canyon, hingga paket wisata budaya berbasis masyarakat, semuanya berpadu menjadi pengalaman wisata yang lengkap dan bermakna.

Dengan jarak tempuh sekitar dua jam dari Kota Tasikmalaya, Goa Malawang layak menjadi destinasi unggulan bagi wisatawan yang ingin menikmati alam sekaligus belajar sejarah.

Di tengah upaya pelestarian dan semangat gotong royong warga, Goa Malawang perlahan bangkit menjadi simbol bagaimana warisan budaya dapat dijaga sambil menggerakkan ekonomi desa. (*)

Pewarta : Harniwan Obech
Editor : Ronny Wicaksono
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Bontang just now

Welcome to TIMES Bontang

TIMES Bontang is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.