Kisah Mauliyan dan Ariandi, Induk dan Anak Orangutan Berjuang di Tengah Kepungan Tambang
Induk Orangutan Mauliyan dan anaknya Ariandi (FOTO: BKSDA Kaltim for TIMES Indonesia)

Kisah Mauliyan dan Ariandi, Induk dan Anak Orangutan Berjuang di Tengah Kepungan Tambang

Pada 25 September 2023, tim rescue akhirnya berhasil menemukan dan mengevakuasi Mauliyan dan Ariandi. Namun proses penyelamatan keduanya bukan perkara mudah.

TIMES Bontang,Selasa 26 Mei 2026, 14:11 WIB
333
A
Ahmad Syahir

KUTAI TIMURDi tengah hamparan jalan hauling tambang batu bara di Kutai Timur, seekor induk orangutan berjalan perlahan sambil menggendong bayinya.

Tubuhnya sangat kurus, tulang rusuknya tampak jelas, sementara langkahnya terlihat lemah di tengah debu dan lalu lalang kendaraan tambang.

Pemandangan itu terekam dalam sebuah video singkat yang viral pada pertengahan September 2023 dan kembali ramai diperbincangkan hingga kini.

Bagi banyak orang, video tersebut bukan sekadar rekaman satwa liar yang tersesat. Ia menjadi simbol bagaimana ruang hidup orangutan Kalimantan perlahan menyusut di tengah ekspansi industri tambang dan perkebunan.

Induk orangutan itu kemudian diberi nama Mauliyan. Bayinya dipanggil Ariandi. Keduanya ditemukan di kawasan perbatasan konsesi tambang milik PT Ganda Alam Makmur dan PT Indexim di Kecamatan Kaubun, Kabupaten Kutai Timur.

article

Berdasarkan penelusuran Jaringan Penulis Alam (JPA) dari video tersebut, kawasan itu berada di lanskap Karaitan, salah satu meta populasi orangutan di Kalimantan Timur yang mencakup Kecamatan Bengalon, Kaubun, dan Kaliorang.

Di bentang alam itu, aktivitas tambang batu bara, perkebunan kelapa sawit, dan Hutan Tanaman Industri (HTI) terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

Hutan-hutan yang dulunya saling terhubung kini terpecah menjadi petak-petak kecil yang terisolasi. Orangutan yang biasa berpindah mencari pakan akhirnya terjebak di 'pulau-pulau' hutan yang makin sempit.

“Habitat orangutan terus terfragmentasi, menyisakan sedikit hutan yang membentuk seperti pulau-pulau kecil yang tidak saling terhubung. Di situlah orangutan bertahan hidup,” tulis JPA dalam hasil penelusurannya.

article

Tak lama setelah video viral itu menyebar, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama mitra konservasi langsung bergerak melakukan penelusuran.

Pada 25 September 2023, tim rescue akhirnya berhasil menemukan dan mengevakuasi Mauliyan dan Ariandi. Namun proses penyelamatan keduanya bukan perkara mudah.

Tim rescue lebih dulu mengamati pergerakan Mauliyan dan anaknya selama beberapa hari. Mereka bahkan harus bermalam di bawah pohon tempat keduanya tidur demi mempersempit ruang gerak orangutan tersebut.

Saat fajar belum benar-benar menyingsing, tim penyelamat mulai bersiap melakukan pembiusan menggunakan senapan bius khusus. Tetapi tubuh Mauliyan yang terlalu kurus justru menjadi tantangan tersendiri.

Tiga kali dart bius meleset karena tim kesulitan menentukan titik aman pada tubuh Mauliyan yang tinggal menyisakan tulang. Baru pada tembakan keempat, bius berhasil mengenai tubuh induk orangutan itu.

Dalam kondisi panik dan setengah terbius, Mauliyan bergerak tidak terkendali di atas pohon. Di tengah kepanikan itu, Ariandi sempat terlepas dari pelukannya. Tim rescue bergerak cepat menangkap bayi orangutan tersebut sebelum jatuh ke tanah.

Yang membuat tim tersentuh, Mauliyan justru berusaha turun dari pohon ketika melihat anaknya berada di tangan manusia. Meski tubuhnya mulai lemah akibat anestesi, naluri keibuannya membuat ia tetap berusaha mendekati Ariandi.

“Sejauh tim melakukan rescue, Mauliyan adalah orangutan yang kondisinya paling memprihatinkan. Malnutrisi, dehidrasi, rambutnya hampir seluruhnya hilang dan dia masih aktif menyusui anaknya,” ujar Manager pusat rehabilitasi orangutan COP, Widi Nursanti.

Setelah berhasil dievakuasi, Mauliyan dan Ariandi dibawa ke Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA), pusat rehabilitasi milik Centre for Orangutan Protection (COP) di Kabupaten Berau.

Di tempat itulah tim medis mulai mengetahui seberapa parah kondisi Mauliyan sebenarnya. Body Condition Score (BCS) Mauliyan hanya 1,5 dari skala maksimal 5.

Tubuhnya mengalami malnutrisi berat, dehidrasi, mata cekung, kulit mengelupas, dan sebagian besar rambutnya rontok. Bahkan saat diperiksa, ASI yang keluar dari tubuh Mauliyan hanya sedikit.

Feses Mauliyan juga dipenuhi serat kayu, tanda bahwa ia bertahan hidup dengan memakan kulit pohon dan tanaman berserat akibat minimnya sumber makanan alami di habitatnya.

Beberapa hari setelah tiba di pusat rehabilitasi, kondisi Mauliyan sempat memburuk drastis. Ia mengalami hipoglikemia atau kadar gula darah rendah hingga pingsan selama berjam-jam.

“Kondisi malnutrisi ditambah kadar gula rendah membuat Mauliyan pingsan dari pagi hingga siang. Tim medis melakukan terapi cairan dan pemberian madu serta gula,” kata Paramedis COP, Miftachul Hanifah.

Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar gula darah Mauliyan hanya 52 mg/dL. Selain itu, ia juga mengalami hipokalsemia akibat tubuhnya terus memproduksi ASI dalam kondisi kekurangan nutrisi.

Selama rehabilitasi, Mauliyan mendapat perlakuan khusus. Ia diberi tambahan susu, pisang, alpukat, susu kedelai, vitamin, hingga cairan elektrolit tiap hari. Tim medis bahkan mengoleskan coconut oil pada pakan untuk membantu memulihkan kondisi kulitnya yang sangat kering.

Perlahan, tubuh Mauliyan mulai pulih. Berat badannya yang semula hanya 19 kilogram naik menjadi 27 kilogram pada Desember 2023. Tiga bulan kemudian, berat badannya mencapai 34 kilogram. Rambut di tubuhnya mulai tumbuh kembali dan kondisi fisiknya jauh lebih stabil.

Sementara Ariandi berada dalam kondisi yang lebih baik. Meski begitu, bayi orangutan itu tetap menjalani perawatan intensif dan mendapat pengobatan cacing setelah ditemukan larva cacing dalam pemeriksaan medis.

Yang menarik, meski menjalani rehabilitasi selama berbulan-bulan, sifat liar Mauliyan tetap terjaga. Ia masih menunjukkan sikap agresif terhadap manusia dan terus melindungi anaknya dalam berbagai situasi.

Menurut Kepala BKSDA Kaltim, M Ari Wibawanto, itulah sebabnya rehabilitasi terhadap Mauliyan lebih difokuskan pada pemulihan kesehatan, bukan perilaku liar.

“Perilaku mereka masih liar, jadi tidak perlu rehabilitasi tingkah laku. Fokus kami adalah meningkatkan kondisi kesehatan dan menghilangkan malnutrisi,” ujarnya.

Pada Maret 2024, setelah sekitar enam bulan menjalani pemulihan, Mauliyan dan Ariandi akhirnya dilepasliarkan ke kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat di Kecamatan Busang, Kutai Timur.

Momen pelepasliaran itu menjadi salah satu pengalaman paling emosional bagi tim rescue.

“Ketika pintu kandang dibuka, Mauliyan keluar sambil memeluk pohon dan kemudian naik bersama Ariandi. Naluri keibuannya tetap sangat kuat sejak kondisi kritis sampai akhirnya kembali ke alam liar,” kata Widi.

Kini Mauliyan dan Ariandi kembali hidup di alam bebas. Namun kisah mereka menjadi pengingat keras tentang ancaman nyata yang dihadapi orangutan Kalimantan.

Di balik pertumbuhan industri dan pembangunan ekonomi, ruang hidup satwa liar terus tergerus. Hutan yang hilang bukan hanya soal pepohonan yang ditebang, tetapi juga tentang kehidupan yang perlahan kehilangan tempat untuk bertahan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:Ahmad Syahir
|
Editor:Ronny Wicaksono

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Bontang, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.