Ramadan 2026: Cerita Bintang Sepakbola yang Tetap Ngegas Meski Puasa
Dari Mohamed Salah sampai pemain liga bawah, begini cara pesepakbola muslim menjalani puasa di tengah jadwal padat. Pengalaman mereka jadi bekal berharga buat Piala Dunia 2026.
MALANG – Kalau Anda pemain sepakbola atau sering olahraga sepakbola ringan saat waktu luang. Anda harus lari kesana-kemari selama 90 menit di bawah terik matahari atau lampu stadion yang panas, sementara perut kosong dan tenggorokan kering saat puasa Ramadan. Apa yang bisa Anda bayangkan?
Seperti itu lah yang dialami puluhan pesepakbola profesional setiap bulan Ramadan. Tapi yang bikin kita terus bertanya, mengapa mereka tetap bisa full-gas, bahkan mencetak gol buat timnya?
Ramadan tahun ini, yang jatuh antara pertengahan Februari sampai pertengahan Maret 2026, jadi momen spesial. Bukan cuma soal ibadah, tapi juga jadi ajang uji coba skala besar buat para atlet yang berpuasa menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar tiga bulan lagi di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Jeda yang Sakral
Di Inggris. Liga Premier punya cara unik buat menghormati pemain yang puasa. Ada yang namanya jeda alami atau natural pause. Jadi, saat waktu buka puasa tiba, wasit bakal cari momen saat bola keluar lapangan, misalnya saat lemparan ke dalam atau tendangan gawang, buat beri waktu jeda sekitar semenit. Pemain seperti Mohamed Salah atau Ibrahima Konaté bisa langsung memanfaatkanya untuk menambah energi dari gel atau minuman elektrolit di pinggir lapangan.
"Kami paham kalau urusan spiritual, itu bagian dari profesionalisme atlet. Jeda singkat ini cara kami beri kesempatan yang sama buat semua pemain,"seperti itu bunyi pernyataan resmi Liga Premier.
Tapi di negara lain ceritanya beda. Di Jerman dan Italia, wasit biasanya lebih fleksibel, walau tidak ada aturan baku. Di Spanyol, urusan puasa lebih diserahkan ke tim medis masing-masing klub.
Nah, di Prancis, situasinya agak sedikit panas. Federasi sepakbola mereka (FFF) tegas melarang pertandingan dihentikan buat alasan agama. Akibatnya, pemain kayak Achraf Hakimi (PSG) harus menahan buka sampai turun minum. Berat sekali...
Antara Capek dan Bangga
Bicara beratnya main sambil puasa, Mo Faal, striker Maidstone United yang main di kasta keempat Liga Inggris, bisa memberi gambaran buat kita. Pria 28 tahun ini mencetak gol penyeimbang pas timnya imbang 1-1 lawan Dorking, 24 Februari 2026 lalu. Tapi di balik gol itu, ada perjuangan luar biasa.
"Kalau kondisi normal, saya 100 persen fit. Tapi pas puasa, tenaga saya seperti tinggal setengahnya," cerita Faal ke Kent Online usai pertandingan. "Begitu mulai lari, rasanya berat banget, saya tidak bohong. Saat turun minum, sudah lemes banget, padahal biasanya saya kuat 90 menit."
Faal cerita bagaimana dia harus berperang sama diri sendiri di lapangan. "Menit-menit 45 atau 50, saya terus bisikin diri sendiri, 'kuat, kamu masih punya cadangan tenaga'. Padahal saya tahu tubuh sudah mau nyerah. Tapi saya percaya dan yakin, ini lah esensi Ramadan itu. Mendorong batas mental, membuktikan kalau tubuh bisa melakukan lebih dari yang kita kira," katanya. "Dan keyakinan itu yang bikin saya bisa bertahan dan akhirnya nyetak gol."
Sementara di level atas, nama Mohamed Salah lagi jadi sorotan. Bintang Liverpool ini puasa di tengah jadwal super padat yang ujung-ujungnya bikin timnya kalah di final Piala Liga saat lawan Newcastle. Liverpool tersingkir dari Liga Champions.
Mantan bek Manchester City, Micah Richards, memberi pandangan pribadinya di podcast The Rest Is Football, 23 Februari 2026 lalu. "Jangan lupa, sekarang Salah lagi puasa Ramadan. Dia puasa," kata Richards. "Wajar banget kalau level energinya tidak sama seperti biasanya. Fakta dia masih bisa main di lapangan dengan level segitu saja, itu sudah luar biasa," tegasnya.
Bukan Cuma Fisik, Tapi Juga Mental
Para ilmuwan olahraga juga ikut nimbrung. Dr. Vincent Gouttebarge, Direktur Medis FIFPRO (asosiasi pemain sepakbola sedunia) bilang, kuncinya bukan soal apakah puasa bikin performa turun. Tapi bagaimana caranya bisa mengatur tiga hal ini maksimal: nutrisi yang tepat, minum yang cukup, dan tidur berkualitas.
"Data kami menunjukkan, dengan pendekatan yang pas, atlet bisa pertahankan performanya. Tantangan terbesar justru gangguan ritme tidur karena pola makan berubah dan harus bangun buat sahur," jelasnya seperti dilaporkan di laman resmi fifpro.org Maret 2025 lalu.
Klub-klub besar seperti Liverpool, Real Madrid, dan Manchester City udah pakai teknologi pelacak tidur buat memastikan pemain seperti Antonio Rüdiger atau Hakan Çalhanoğlu istirahat cukup. Soalnya, kurang tidur bisa meningkatkan risiko cedera otot, seenak apa pun makannya.
Tapi jangan salah. Ternyata ada sisi psikologis yang justru jadi senjata rahasia. Antonio Rüdiger, bek Real Madrid galak itu, blak-blakan bilang puasa bikin mentalnya makin kuat. "Puasa itu nggak mudah, justru itu yang bikin pikiran saya makin kuat," ujarnya.
Jadi, motivasi spiritual bagi Rüdiger ternyata bisa mengalahkan keterbatasan fisik.
Di Arab, Malah Malam Hari Mainnya
Nah, kalau di Saudi Arabia, ceritanya beda total. Saudi Pro League (SPL) nggak perlu ribet bikin aturan khusus. Soalnya, jadwal pertandingan selama Ramadan digeser semua ke malam hari. Biasanya jam 10 atau 11 malam waktu setempat, setelah waktu buka. Jadi pemain udah pada isi perut dulu sebelum tempur di lapangan.
Yang menarik, pemain non-Muslim juga ikut adaptasi. Cristiano Ronaldo, kapten Al-Nassr, kabarnya ikut coba puasa beberapa hari. Langkahnya diapresiasi sebagai bentuk penghormatan ke rekan setim dan budaya setempat. Keren, kan?
Bekal Berharga Buat Piala Dunia 2026
Nah, ini yang paling seru. Pengalaman mengelola pemain yang puasa selama Ramadan 2026 jadi modal penting buat Piala Dunia 2026. Meski turnamennya (11 Juni-19 Juli) di luar bulan puasa, tapi masa persiapan dan kualifikasi sering bentrok sama Ramadan.
Coba lihat peserta Piala Dunia nanti. Maroko, yang jadi semifinalis 2022, satu grup sama Brasil di Grup C. Senegal (Grup I), Tunisia (Grup F), Aljazair (Grup J), dan Mesir (Grup G) juga ikut. Total, ada sembilan tim dari negara mayoritas muslim atau dengan populasi muslim besar yang bakal bertarung.
Federasi-federasi ini mulai belajar dari klub-klub Eropa. Mereka contoh cara Liverpool atau Real Madrid menjaga kebugaran pemain bintangnya selama puasa. Ilmu tentang nutrisi, menjaga minum saat malam, dan mengatur waktu tidur sekarang jadi kurikulum wajib buat tim dokter di tim nasional mereka.
Masih Ada Cemooh, Tapi Semakin Banyak yang Paham
Tapi jalan menuju toleransi tidak selalu mulus. Saat Leeds United lawan Manchester City, 28 Februari 2026 lalu, jeda buat buka puasa malah disambut cemoohan sebagian suporter. Tiga pemain City yang puasa, Rayan Cherki, Omar Marmoush, dan Rayan Ait-Nouri, jadi sasarannya. Padahal sudah ada penjelasan, bahkan ditayangkan di layar raksasa stadion.
Manajer City, Pep Guardiola, langsung bereaksi keras di konferensi pers usai laga. "Ini dunia modern. Lihat apa yang terjadi di dunia saat ini. Kita harus hormati keyakinan dan keberagaman, itu intinya," tegasnya.
"Liga Premier mengizinkan satu dua menit buat pemain yang puasa. Ya mereka lakukan itu. Memang begitu adanya, sayang sekali," imbuhnya.
Ditanya apakah pemainnya terganggu, Guardiola tidak ambil pusing. "Mereka cuma minum sedikit vitamin karena Cherki dan Ait-Nouri hari ini tidak makan, mereka puasa. Itu saja. Pertanyaannya, apa mereka boleh lakukan itu atau nggak? Boleh lah, karena Liga Premier mengizinkan. Lalu, apa masalahnya?" katanya.
Di sisi lain, banyak klub yang justru makin inklusif. Acara "Open Iftar" atau buka puasa bersama digelar di stadion-stadion Premier League kayak Stamford Bridge (Chelsea), Old Trafford (Manchester United), sama Villa Park (Aston Villa).
Ribuan orang dari berbagai latar belakang datang buat buka puasa bareng di tribun stadion. Stadion yang biasanya tempat teriakan dan rivalitas, berubah jadi ruang damai dan dialog.
Ramadan akan Usai, Tapi Pelajarannya Abadi
Ramadan 2026 bakal segera berlalu. Tapi yang ditinggalkan bukan cuma kenangan. Ada data, pengalaman, dan pelajaran berharga dari dunia sepakbola.
Buat pemain sepakbola muslim, Ramadan adalah soal menjaga keseimbangan antara iman dan kerja.
Buat klub bola, Ramadan adalah bukti kalau sains dan empati bisa jalan beriringan.
Dan buat dunia sepakbola, Ramadan jadi laboratorium bahwa olahraga terpopuler di muka bumi ini terus belajar menjadi tempat yang lebih ramah buat semua orang.
Dan bagi kita, belajar dari sepakbola, bulan Ramadan ini harusnya kita juga bisa belajar berempati dan berharmoni dengan semua orang. Tak pandang bulu. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




