TIMES BONTANG, MALANG – Akhir-akhir ini kamera analog atau jadul kembali digemari kalangan remaja. Tak sedikit dari mereka, rela merogoh kocek cukup dalam hanya untuk menikmati sensasi bermain kamera analog untuk mengabadikan momen tertentu.
Lantas, apa yang membuat kamera analog kembali diminati di era digital saat ini ? TIMES Indonesia merangkum 7 alasan kenapa remaja mulai gemari kamera analog:
1. Proses yang tidak instan membuat kita lebih sabar
Saat menjepret dengan DSLR atau mirrorless, gambar yang kita foto akan langsung tersaji di galeri kamera dan langsung bisa kita lihat. Berbeda dengan kamera analog, jika ingin melihat hasilnya, kamu perlu mencuci film menjadi negatif atau klise. Setelahnya, kita perlu menunggu hasil foto kita dicetak. Proses menunggu ini membuat kita lebih sabar.
2. Bentuk kamera analog sangat estetik dan unik
Kamera analog lawas punya bentuk yang unik dan estetik. Kamera digital umumnya punya desain yang hampir mirip, sementara kamera analog punya bentuk yang lebih bervariasi. Menariknya lagi, harganya lebih murah dari kamera digital, sehingga kamu bisa mengoleksi beberapa kamera analog sekaligus.
3. Kamera analog membuatmu lebih paham cara kerja kamera
Memakai kamera digital dengan mode otomatis akan menumpulkan insting fotografi kita. Sementara, memotret dengan kamera analog akan membuat kita lebih paham tentang cara kerja kamera. Misalnya, kita harus mengatur ISO/ASA, aperture ring dan shutter speed dial. Untuk menguasainya, kamu harus mengutak-atik kamera analog sendiri.
4. Dalam satu roll film, kita hanya bisa menjepret antara 24-36 gambar
Di kamera digital, kita bisa memotret sebanyak-banyaknya sesuai kapasitas kartu memori dan resolusi foto yang digunakan. Sementara, di kamera analog, jumlahnya dibatasi. Kita hanya bisa menjepret 24-36 gambar per roll film. Cukup sedikit, ya?
Dengan batasan ini, kamu pun terpacu untuk meminimalisir kesalahan, terlebih harga roll film yang lumayan mahal. Misalnya, Kodak Film Gold 36 harganya sekitar Rp150 ribu, sementara FujiFilm Colour 36 memiliki harga Rp190 ribu. Belum biaya cuci dan cetak film sekitar Rp50 ribu.
5. Sensasi berada di kamar gelap sangat menyenangkan
Sebelum foto dicetak, hasil jepretan kita pasti diproses ke ruang gelap terlebih dahulu. Ruang gelap digunakan untuk memproses film, membuat cetakan, melakukan editing dan hal-hal lainnya. Bekerja di kamar gelap merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan karena kita bisa tahu bagaimana foto kita diproses, terang laman Canva.
6. Kamu bisa belajar tentang pencahayaan dan warna
Apa yang menyebabkan hasil cetak foto analog berbeda antara satu dengan yang lain? Ada yang menghasilkan warna lembut, ada yang kontras dan ada yang tajam. Rupanya, berbagai bahan kimia dalam film memengaruhi caranya membentuk cahaya dan warna.
Selain itu, kamu akan tahu bahwa setiap kamera memiliki karakteristik fotonya masing-masing. Misalnya, Kodak Portra atau Ektar cocok untuk foto portrait karena menghasilkan warna kulit yang lembut. Untuk fotografi alam, lebih cocok memakai Fujifilm Velvia.
7. Foto yang 'gagal' pun tetap terlihat artistik
Tidak selamanya kita menghasilkan foto yang sempurna. Ada kalanya, kita menghasilkan foto dengan vignette, eksposur ganda, kebocoran cahaya (light leaks) dan tidak fokus. Tapi, foto 'gagal' yang kita hasilkan pun tetap terlihat artistik. Justru, hasil foto yang 'gagal' ini malah menciptakan karya seni yang indah. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: 7 Alasan Remaja Mulai Gemari Kamera Analog di Era Digital
Pewarta | : Rizky Kurniawan Pratama |
Editor | : Ferry Agusta Satrio |