Hoya bukitrayaensis, Si Cantik yang Tersembunyi di Jantung Hutan Kalimantan
Hoya sendiri merupakan jenis tanaman merambat yang bisa dijumpai di kawawan Indomalaya-Australiasia. Namun jenis bukitrayaensis ini baru ditemukan hingga menambah keanegaragaaman Hoya di Indonesia.
jakarta – Kementarian Kehutanan RI merilis spesies baru yang ditemukan di titik tertinggi Pulau Kalimantan. Namanya Hoya bukitrayaensis.
Si cantik ini ditemukan saat ekspedisi biodiversitas TanaKaya di jantung hutan Kalimantan Tengah di Kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya.
Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Telopea edisi 27 Maret 2026 melalui kolaborasi tim peneliti berbagai institusi, yaitu Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara, Yayasan Konservasi Biota Lahan Basah, Balai Besar Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Universitas Indonesia, dan Universitas Samudra.
Hoya sendiri merupakan jenis tanaman merambat yang bisa dijumpai di kawawan Indomalaya-Australiasia. Namun jenis bukitrayaensis ini baru ditemukan hingga menambah keanegaragaaman Hoya di Indonesia.
Peneliti yakin masih ada spesies Hoya lainnya yang tersembunyi di wilayah tersebut.
Hoya bukitrayaensis hidup di hutan pegunungan dengan ketinggian minimal 1.400 mdpl. Habitatnya dingin, lembab dan ekstrem.

Krakteristik fisiknya berdaun ramping dan meruncing. Sementara bagian atas halus, dan bagian bawahnya lebh kasar, Bunganya kecil, dan ditutupi bulu halus dan pada bagian tengah berwarna merah yang unik dan menonjol.
Dikutip dair Mongabay, Hoya bukitrayaensis tidak bisa ditemukan di sembarang tempat, ia memilih hidup di zona hutan kabut dengan suhu dingin.
Habitat pegunungan seperti ini sering menjadi tempat tinggal spesies dengan persebaran terbatas dan berkontribusi pada tingginya tingkat endemisitas tumbuhan yang dilaporkan di wilayah seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Papua Nugini.
“Habitat pegunungan seperti ini sering menjadi rumah bagi spesies-spesies dengan sebaran sangat terbatas.”
Keterbatasan sebaran ini membuat Hoya bukitrayaensis sangat rentan. Jika terjadi gangguan ekosistem, baik itu karena krisis iklim atau aktivitas manusia di sekitar kawasan, maka spesies ini bisa menghadapi ancaman kepunahan. Bahkan, sebelum siklus hidupnya dipahami sepenuhnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

